Pengantar: Masalah Kudus dalam Protestanisme
Proses transformasi Santo Nikolaus dari Myra ke Santa Claus adalah kasus unik dalam sejarah budaya Kristen, yang menggambarkan perbedaan fundamental dalam pemahaman kudus antara Katolik/Ortodoks dan Protestan. Agiologi (ilmu tentang kudus) dalam tradisi Protestan, khususnya dalam bentuk klasiknya (Lutheranisme, Calvinisme), secara radikal diubah selama Reformasi abad ke-16. Ini mengakibatkan denaturasi kultus kudus dan menciptakan ruang kosong yang diisi dengan mitologi baru, yang paling menonjol adalah Santa Claus.
Dasar Doktrin: "Hanya iman, hanya Alkitab, hanya Yesus Kristus"
Martin Luther dan para reformator lainnya menolak penghormatan kudus sebagai idolatras dan gangguan untuk iman yang sebenarnya, berdasarkan prinsip utama:
Sola Fide (Hanya iman): Penyelamatan diberikan secara eksklusif melalui iman pribadi dalam Yesus Kristus, bukan melalui perantaraan kudus. Doa kepada kudus mengurangi peran Yesus sebagai penjembatan tunggal (1 Tim. 2:5).
Sola Scriptura (Hanya Alkitab): Praktik yang tidak memiliki dasar jelas di Alkitab di tolak. Menurut para reformator, penghormatan kudus massal adalah penambahan yang terlambat.
Keagamaan Umum Umat Kristen: Luther mengklaim bahwa setiap Kristen yang dicuci di dalam air suci adalah "kudus" dalam kenaikan, dengan demikian mengecilkan status penjaga yang dihormati.
Sebagai akibatnya, kudus di defunksionalisasikan. Pemakaman kekuatan mereka sebagai objek penghormatan, doa kepada mereka, dan hari kenangan sebagai hari libur wajib menghilang. Namun, figurasi historis mereka dan naratif yang berhubungan sering dijaga sebagai contoh moral dan pendidikan.
Santo Nikolaus: Dari Penyembah ke Alat Pendidikan
Di negara-negara Eropa Protestan (Belanda, Jerman, Inggris), gambar Santo Nikolaus (Sinterklaas, Saint Nikolaus) tidak diusir sepenuhnya, tetapi mengalami transformasi yang mendalam:
Demifologisasi: Akcent berpindah dari keajaiban dan perantaraan mereka kepada cerita tentang kemanusiaan derajat (bantuan untuk tiga gadis yang mempunyai hadiah) sebagai contoh kemanusiaan Kristen.
Pendidikan: Figuranya digunakan untuk tujuan pendidikan. Di Belanda, Sinterklaas (temannya Zwarte Piet — Zwart Pieten) datang 5-6 Desember untuk menghargai anak yang jauh diatas dan menghina yang kurang jauh. Ini bukan hanya kudus, tetapi kekuasaan moral dan pengatur sosial perilaku anak.
Sekularisasi: Dengan demikian, dia kehilangan atribut episkopal langsung (mitra, tongkat), hari kenangan dia disatukan dengan perayaan Natal.
Penetapannya Santa Claus: Amerika Utara Protestan sebagai wadah transformasi
Thomas Nast dan kanon visual (1860-an): Kartunis Jerman kelahiran yang bekerja di majalah Harper's Weekly menciptakan gambar yang dikenal: pria berbadan tebal, berambut janggut, berpakaian berbahan kulit, tinggal di kutub utara. Nast dengan sengaja menggabungkan Sinterklaas Belanda dan Father Christmas Inggris.
Perusahaan "Coca-Cola" dan Haddon Sundblom (1931-1964): Walaupun warna pakaian merah muda muncul sebelumnya, tetapi kampanye iklan "Coca-Cola" yang menetapkan di hati masyarakat umum gambar Santa Claus modern yang ramah, merah muda. Ini secara akhir menjadikannya simbol kekayaan konsumen, bukan kemanusiaan.
Ambivalensi Protestan Modern
Aliran liberal (banyak Lutheran, Anglican) dengan mudah menerima dia sebagai tradisi budaya yang aman, bagian dari perayaan keluarga, kadang-kadang bahkan membuat paralel dengan hadiah para dewa.
Aliran konservatif dan evangelis sering melihat Santa Claus sebagai kompetitor Yesus, yang mengalihkan perhatian dari "arti sebenarnya Natal". Dia dianggap sebagai idol palsu, simbol komersialisasi. Dalam beberapa keluarga, ada praktek pengabaian penuh dari figur ini.
Percobaan rehristianisasi: Ada upaya untuk kembalikan ciri-ciri Nikolaus, berbicara kepada anak tentang sejarah eпископ Kristen yang sebenarnya, keberadaannya menjadi contoh kesadaran. Ini adalah upaya untuk memadankan mitos budaya dengan identitas keagamaan.
Pengakhiran: Dari Agiologi ke Mitologi
New publications: |
Popular with readers: |
News from other countries: |
![]() |
Editorial Contacts |
About · News · For Advertisers |
Digital Library of New Zealand ® All rights reserved.
2025-2026, ELIB.NZ is a part of Libmonster, international library network (open map) Preserving New Zealand's heritage |
US-Great Britain
Sweden
Serbia
Russia
Belarus
Ukraine
Kazakhstan
Moldova
Tajikistan
Estonia
Russia-2
Belarus-2