kami biasa menghubungkan Maugli dengan hutan kering di India, tempat serigala, beruang dan panther menjadi keluarga bagi anak manusia yang hilang. Tetapi di pustaka Sahara yang besar ada legenda sendiri tentang anak-anak liar yang ditingkatkan oleh hewan. Disini, di antara pasir yang tak terbatas dan sinar matahari yang panas, peran serigala dimainkan oleh gurita, dan gundukan bambu digantikan dengan duna yang tak terbatas. Cerita-cerita ini, yang disebarkan dari mulut ke mulut para penutur, sama indah dan dramatis seperti cerita Kipling. Yang paling mengejutkan: salah satu cerita ini ternyata benar.
Pada awal abad ke-20, di Sahara terjadi suatu peristiwa yang dianggap para penutur kudeta seperti legenda, sampai hal ini mencapai telinga wartawan Swedia, dan kemudian para pendekar film. Anak laki-laki kecil bernama Hadara, yang hanya berumur dua tahun, berpergian dengan kudeta keluarganya. Tanpa sengaja, badai pasir memisahkan dia dari orang tuanya. Saat debu turun, anak laki-laki ini tidak dijumpai di tempat lain. Keluarga mencari dia, tetapi hutan pasir tak memberikan korbannya. Anak laki-laki ini dianggap mati.
Tetapi Hadara hidup. Dia ditemukan dan diadopsi dalam sapeka gurita — burung yang besar, cepat dan berpandang jauh, yang menjadi keluarga baru bagi dia. Dia berada di antara mereka selama sepuluh tahun, memadati adat mereka, belajar mencari air dan makanan di hutan pasir yang tak berdosa. Dia berlari dengan kecepatan seperti mereka, tidur dengan berdampingan dengan tubuh panas mereka, dan mungkin menganggap dirinya sendiri sebagai salah satu dari mereka. Teman terbaiknya adalah lumba-lumba fennec — yet another penduduk Sahara, who shared his loneliness and joys of life among the sands.
Saat Hadara ditemukan oleh manusia, dia sudah menjadi remaja. Dia kembali belajar berbicara, menghitung dan hidup di antara manusia. Dia mendirikan keluarga, tetapi, seperti yang disebut legenda, setelah bertahun-tahun dia mengambil keputusan yang tak diharapkan — kembali ke hutan. Mungkin panggilan pasir lebih kuat daripada panggilan darah. Cerita ini menjadi dasar film «Anak dan Lumba-lumba» (L'Enfant du désert) karya penari Jil de Mètre, serta buku «Hadara, l'enfant autruche» karya Monique Zak.
Pada hutan di India, Maugli menemukan tempat pengasingan di staka serigala — hewan pemangsa yang dapat melindungi dan memakan dia. Di Sahara, peran pelindung diserahkan kepada gurita. Dan hal ini bukan kebetulan. Gurita adalah orang tua yang ideal bagi anak manusia yang hilang di hutan pasir. Mereka dapat membangun kecepatan hingga 70 kilometer per jam, yang memungkinkan mereka untuk melarikan diri dari sebagian besar pemangsa. Mereka memiliki mata yang tajam, dan selalu mendeteksi bahaya dari jauh. Selain itu, gurita adalah orang tua yang peduli, yang melindungi keturunannya dengan keberanian yang luar biasa.
Pada legenda Sahara, gurita sering muncul sebagai makhluk yang cerdas dan kuat. Penutur, yang mengamati burung ini selama berabad-abad, melihat di mereka bukan hanya sumber daging dan telur, tetapi contoh keberlanjutan dan keberadaan di tempat yang tak dapat dihidupkan. Tidak heran jika gurita menjadi orang tua angkat bagi anak manusia yang hilang di hutan pasir.
Cerita Hadara bukanlah legenda Sahara tunggal tentang anak anak liar. Dalam fiksi suku Sahara ada karakter bernama Shartat. Cerita tentang dia adalah salah satu yang paling terkenal di wilayah ini. Menurut legenda, Shartat adalah seorang manusia yang hidup di Sahara dengan penuh keasingan, dekat dengan hewan liar. Dalam beberapa cerita dia dihadirkan sebagai pria yang cerdas dan kuat, yang dapat mengekal serigala atau lewer. Dalam cerita lain, dia muncul sebagai pendeta cerdas, yang memahami bahasa Sahara dan penduduknya.
Shartat adalah gambar archetipik «orang pasir», yang terpadu dengan Sahara hingga tak lagi menjadi manusia. Dalam dia terdapat ciri-ciri Maugli, tetapi dengan perubahan bagi keadaan Sahara yang keras: di sini tak ada kekayaan hutan, tak ada buah banana dan kelapa, ada hanya pasir, kekeringan dan bintang. Shartat bertahan bukan karena teman-teman hewan, tetapi karena kemampuannya untuk memahami Sahara dan hidup di sampingnya.
Cerita Hadara, seperti legenda tentang Shartat, masuk dalam fenomena yang luas «anak-anak yang menjadi liar» — anak-anak yang karena alasan-alasan yang berbeda terisolasi dari masyarakat manusia dan tumbuh di antara hewan. Dalam berbagai budaya, cerita seperti ini bertambah mitos dan menjadi bagian dari fiksi. Di Sahara, tempat kehidupan penutur selalu terikat dengan alam liar, cerita seperti ini menjadi sangat hidup.
Penutur telah menyerahkan cerita tentang anak-anak yang ditemukan di Sahara selama berabad-abad, kadang-kadang mati, kadang-kadang hidup, tetapi selalu berubah oleh Sahara. Di cerita ini, Sahara muncul bukan sebagai penembak, tetapi sebagai ibu yang keras dan adil, yang mengambil beberapa anak dan memberikan yang lain. Hadara menjadi salah satu yang diambil dan ditingkatkan oleh Sahara dengan cara yang sendiri.
Arketip Maugli — anak yang ditingkatkan oleh hewan — universal. Dia muncul di budaya di seluruh dunia karena mempertahankan pertanyaan yang mendalam manusia: apa yang menjadikan kami manusia? Apakah alam liar dapat menggantikan keluarga? Apa yang seperti menjadi asing di antara sendiri? Di Sahara, pertanyaan ini menjadi sangat tajam. Sahara adalah tempat kehidupan manusia berada di pinggir, tempat garis antara hidup dan mati, antara manusia dan binatang hampir tak dapat dibedakan.
Legenda tentang Maugli di Sahara bukan hanya hiburan untuk anak-anak di api. Ini adalah cara untuk mengartikan realitas yang keras, tempat manusia dan binatang berperang untuk kehidupan bersama-sama. Ini ingatan tentang hal itu bahwa Sahara dapat menjadi musuh, tetapi juga rumah. Dan bahwa bahkan di tempat yang paling tak berhayat di Bumi, dapat menemukan kasih sayang dan perlindungan.
Legenda tentang Maugli di Sahara adalah cerita tentang bagaimana Sahara menjadi ibu bagi anak-anak yang hilang. Mereka berbicara tentang gurita yang menerima anak manusia ke sapeka mereka, tentang fennec yang menjadi teman terbaik, dan tentang orang yang, kembali ke dunia, tak dapat lupa panggilan pasir. Cerita Hadara, yang dipastikan secara dokumenter, menunjukkan bahwa legenda ini memiliki dasar yang nyata. Dan selama lagu para penutur Sahara berbunyi dan pasir menggugur, cerita ini akan tetap hidup — sebagai ingatan tentang hal itu bahwa bahkan di Sahara yang paling tak berdosa ada tempat untuk keajaiban dan kasih sayang.
© elib.nz
New publications: |
Popular with readers: |
News from other countries: |
![]() |
Editorial Contacts |
About · News · For Advertisers |
Digital Library of New Zealand ® All rights reserved.
2025-2026, ELIB.NZ is a part of Libmonster, international library network (open map) Preserving New Zealand's heritage |
US-Great Britain
Sweden
Serbia
Russia
Belarus
Ukraine
Kazakhstan
Moldova
Tajikistan
Estonia
Russia-2
Belarus-2