Pertandingan Olimpiade, yang berasal sebagai pesta keagamaan dan olahraga untuk Zeus di Yunani Kuno, saat ini diumumkan sebagai peristiwa universal dan sekuler. Namun, masalah identitas keagamaan — keduanya para atlet dan komunitas yang menerima — tetap menjadi salah satu yang paling sulit dan beragam dalam gerakan olimpiade. Ini adalah bidang dialog yang berkelanjutan, kadang-kadang konflik, antara prinsip universalis olimpisme dan praktik keagamaan pribadi, norma dan simbol.
Peristiwa Kuno berada di dalam bagian penting kultus keagamaan Yunani. Kemenangan dianggap sebagai perkenan dewa, dan atlet menjalankan suatu janji di depan patung Zeus. Pemulihan Pertandingan oleh Pierre de Coubertin di akhir abad ke-19 mempunyai karakter sekuler, bahkan quasi-keagamaan dalam ritualitasnya, tetapi sudah dalam rangka ide "keagamaan Manusia" dan pemahaman internasional. Couberten sendiri berbicara tentang "keagamaan olimpiade", mengacu kepada dedikasi bagi ide-ide keterampilan, persahabatan dan penghormatan. Namun, "kulup" baru ini awalnya menghadapi berbagai keagamaan tradisional para peserta.
Untuk atlet olimpiade, identitas keagamaan muncul dalam beberapa aspek praktis yang sering memerlukan perjanjian khusus dengan organisator:
Ketertiban ritual dan jadwal: Ketercapaan pertandingan dengan hari raya keagamaan atau puasa. Misalnya, atlet Muslim yang menjalankan Puasa, selama Pertandingan di London (2012) dan Rio (2016) berkompetisi dalam keadaan puasa, yang memerlukan mode makan dan pemulihan khusus. Komite Organisasi mulai mengambil kira-kira ini saat merancang grafik.
Pakaian dan penampilan: Persyaratannya untuk keberuntungan (hijab, kipa, tunik) dan pemakaian simbol keagamaan (krism, kara Sikhs). Komite Olimpiade secara bertahap meliberalisasikan aturan, seperti memungkinkan pemakaian hijab (dari tahun 2012) dan topi untuk alasan keagamaan. Pada tahun 2021, gimnastikawan Jerman Sarah Foß berlomba dalam kostum yang menutupi tubuh, mengikuti iman Kristennya.
Aспект gender: Partisipasi atlet wanita dari komunitas keagamaan konservatif. Debut tim wanita Saudi Arabia di London-2012 (termasuk atlet atletik Sarah Attar yang berlomba dengan jilbab) menjadi kasus historis yang dipicu oleh Komite Olimpiade sendiri.
Pihak yang menerima sering berusaha menggabungkan elemen keagamaan dominan negara dalam upacara, yang dapat memicu kekacauan.
Contoh inklusif: Pada upacara pembukaan Pertandingan di Sydney (2000), para wakil para pendeta aborigin ikut, mengakui hubungan mereka dengan tanah. Di Salt Lake City (2002) setelah terorisme 11 September, dipertimbangkan lagu-lagu Kristen dan simbol, yang sesuai dengan sentiment masyarakat Amerika.
Situasi konflik: Yang paling menarik perhatian adalah estetika nazi dan upaya untuk menciptakan mitologi "pagan" baru di Pertandingan 1936 di Berlin. Pada tahun 2008 di Beijing, kekhawatiran organisasi hak asasi manusia dan keagamaan tentang posisi pendeta Buddha Tibet dan Muslim Uyghur di Cina.
Pertandingan modern telah mengembangkan set sendiri ritual-ritual sekuler yang memenuhi fungsi yang sama seperti keagamaan: mereka menciptakan rasa komunitas, penghormatan dan transendensi. Menyala api, janji atlet dan hakim, naik bendera, dan menyerahkan medali — semua ini adalah tindakan yang disesuaikan dengan aturan dengan beban simbolik yang tinggi. Mereka membentuk "keagamaan sipil" (istilah pendeta Robert Bellah), di mana objek pemujaan adalah ide-ide umum manusia, kebanggaan nasional dan prestasi olahraga.
Pada Pertandingan 1924 di Paris, organisator menghadapi masalah tempat tinggal atlet Muslim dari Turki, yang menolak tempat tinggal yang disediakan, meminta kondisi khusus. Ini adalah salah satu insiden yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan.
During the Munich terror attack (1972), Israeli athletes were deliberately chosen by members of the Palestinian organization "Black September" based on religious and national identity.
Ethiopian marathon runner Abebe Bikila, who won barefoot in Rome (1960), was a follower of the Coptic Christian faith, and his victory was seen in Africa not only as a sporting but also as a spiritual one.
In the Olympic Village, always create interfaith prayer rooms or centers, which is a practical response to the diversity of religions.
Dari perspektif antropologi dan sociologi, Olimpiade adalah "ruang liminal" (berdasarkan istilah Victor Turner), di mana batas sosial biasa diselamatkan untuk sementara, termasuk keagamaan. Namun, pembersihan ini tidak pernah sempurna. Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan atlet transgender (yang melibatkan pandangan keagamaan tentang gender) atau peningkatan politisasi simbol keagamaan (seperti dukungan para atlet Muslim untuk Palestina) menunjukkan area baru yang membangkitkan kekacauan.
Identitas keagamaan dalam konteks Pertandingan Olimpiade bukan hanya warisan masa lalu, tetapi faktor yang hidup dan dinamis. Gerakan olimpiade terpaksa berada di antara:
Universalisme (idea kesamaan semua peserta).
Penghormatan kepada pribadi (kepatuhan terhadap praktik keagamaan).
Neutralitas (tidak memungkinkan penggunaan Pertandingan untuk propaganda keagamaan).
Pengelolaan yang sukses ini adalah kunci untuk inklusivitas yang sebenarnya. Pertandingan modern menjadi lapangan untuk dialog, di mana melalui olahraga terjadi pertemuan sistem nilai yang berbeda. Ini adalah dialog yang tidak ada jawaban yang sederhana, tetapi yang mencerminkan tantangan global di dunia multikultural. Kemampuan olimpisme untuk berevolusi, menemukan ruang ekspresi identitas keagamaan dalam peristiwa sekuler, tetap menjadi salah satu tantangan utama untuk relevansinya di masa mendatang.
New publications: |
Popular with readers: |
News from other countries: |
![]() |
Editorial Contacts |
About · News · For Advertisers |
Digital Library of New Zealand ® All rights reserved.
2025-2026, ELIB.NZ is a part of Libmonster, international library network (open map) Preserving New Zealand's heritage |
US-Great Britain
Sweden
Serbia
Russia
Belarus
Ukraine
Kazakhstan
Moldova
Tajikistan
Estonia
Russia-2
Belarus-2