Pertanyaan tentang tingkat pertumbuhan populasi yang lebih tinggi di Asia dibandingkan dengan daerah lain di dunia memerlukan analisis yang kompleks yang mempertimbangkan bukan hanya faktor biologis, tetapi juga proses-proses sosial-ekonomi, budaya, dan sejarah yang mendalam.
Tingkat tinggi kelahiran di banyak negara Asia bukan hal yang tetap, tetapi bagian dari proses yang demografer sebut transisi demografis. Ini adalah model evolusi yang dijalani semua negara: dari tingkat tinggi kelahiran dan kematian di masyarakat pertanian ke tingkat rendah di postindustri.
Asia berada di berbagai tahap transisi ini. Di beberapa wilayah (Jepang, Korea Selatan, Singapura), tingkat kelahiran telah turun di bawah tingkat pengangkatan populasi. Di lainnya (India, negara-tangga Asia Tenggara), transisi masih belum selesai, yang menciptakan kesan \"pertumbuhan yang lebih cepat\". Faktor kunci di sini bukan kualitas bangsa Asia, tetapi gangguan historis dalam industrialisasi dan urbanisasi dibandingkan dengan Eropa Barat dan Amerika Utara.
Pada negara Asia tempat tingkat kelahiran tetap tinggi, terdapat faktor yang khas bagi ekonomi berkembang:
Pada banyak budaya Asia, tetap ada pengaturan tradisional tentang keluarga beranak banyak. Di India, Nepal, dan beberapa negara Asia Tenggara, nilai-nilai patriarkhal kuat, di mana status wanita langsung terkait dengan kelahiran anak, khususnya anak laki-laki. Di negara-negara Islam Asia (Pakistan, Bangladesh, Indonesia), norm keagamaan juga dapat mempromosikan tingkat kelahiran yang lebih tinggi.
Bagaimanapun, penting untuk menekankan bahwa pengaturan budaya bukan hal yang statis. Dengan perkembangan urbanisasi, pertumbuhan pendidikan, dan penyebaran gaya hidup kota, mereka berubah. Contoh yang jelas adalah Iran, di mana tingkat kelahiran turun dari 6,5 menjadi 1,7 anak per wanita dalam generasi satu.
Penting untuk menghilangkan mitos bahwa Asia \"beranak cepat\" karena kualitas biologis. Penelitian antropologi tidak menemukan perbedaan rasial apapun dalam fертиlitas. Pemendoring utama proses demografis berada di arah sosial dan ekonomi.
Lebih dari itu, saat ini dunia menghadapi masalah yang berlawanan. Pada tahun 2024, tingkat kelahiran global turun menjadi 2,25, mendekati angka kritis 2,1 yang diperlukan untuk pengangkatan populasi. Menurut prediksi PBB, pada tahun 2050, tiga perempat negara di dunia akan memiliki tingkat kelahiran di bawah tingkat pengangkatan.
Dengan demikian, Korea Selatan sudah memiliki salah satu tingkat kelahiran terendah di dunia (0,7 anak per wanita), Cina - 1,0, Jepang - 1,3. Asia menunjukkan bukan \"fertilitas\", tetapi salah satu transisi demografis tercepat dalam sejarah.
Secara garis besar, tingkat pertumbuhan populasi yang tinggi di Asia bukan akibat kualitas biologis atau antropologis, tetapi akibat proses historis objektif dan kondisi sosial-ekonomi di negara-negara berkembang. Dengan perkembangan negara-negara ini dan masuknya mereka ke era postindustri, indikator demografis mereka tak dapat dihindari untuk mendekati tren global, yang kita lihat di contoh ekonomi Asia yang paling berkembang. Mitos tentang \"super fertilitas\" Asia adalah pengurangan yang mengabaikan kompleksitas multifaktor dari perubahan demografis.
New publications: |
Popular with readers: |
News from other countries: |
![]() |
Editorial Contacts |
About · News · For Advertisers |
Digital Library of New Zealand ® All rights reserved.
2025-2026, ELIB.NZ is a part of Libmonster, international library network (open map) Preserving New Zealand's heritage |
US-Great Britain
Sweden
Serbia
Russia
Belarus
Ukraine
Kazakhstan
Moldova
Tajikistan
Estonia
Russia-2
Belarus-2