Memohon impian adalah salah satu tindakan umum dan paling tua yang diambil manusia. Kita melakukan hal ini saat kita melihat bintang jatuh, saat kita menunjukkan lilin di kue, saat kita melempar koin ke kolam uap, atau saat tahun baru tiba. Tindakan ini tak mengenal batas budaya, tak tergantung dari usia dan status sosial. Hal ini hidup di dalam setiap orang sejak kecil. Tetapi mengapa? Apa yang membuat kita, wujud rasional abad ke-21, percaya di magic angka, waktu, dan persinggahan acak? Dan mengapa, walaupun kita punya ilmu dan pragmatisme, kita terus memohon impian, ketika tahu bahwa hanya kami yang sendiri yang dapat melakukannya?
Alasan pertama adalah kebutuhan kontrol. Dalam dunia yang sering kali keliru dan tak diperkirakan, aktifitas memohon impian memberikan kebisingan menguasai masa mendatang. Kita tak dapat mempengaruhi cuaca, politik, kesehatan orang yang dekat, tetapi kita dapat berkata atau berbicara di hati: “Saya ingin...”. Tindakan ini mengembalikan kesadaran agensi, bahkan jika itu hanya simbolis. Dari perspektif psikologis, memohon impian adalah bentuk strategi koping, cara untuk menghadapi ketidakpastian.
Alasan kedua adalah harapan. Manusia adalah makhluk yang hidup untuk masa mendatang. Kita tak dapat hidup tanpa mengharapkan sesuatu yang baik. Memohon impian adalah kristal harapan, transmutasi harapan dari rasa abstrak ke bentuk konkrit. Ketika kita memohon impian, kita berkata kepada diri sendiri: “Saya percaya bahwa masa mendatang dapat lebih baik daripada masa sekarang”. Ini adalah anker psikologis kuat yang membantu kita bergerak maju, bahkan ketika situasi menghadapi kita.
Alasan ketiga adalah ritual. Manusia adalah makhluk ritual. Kita memerlukan tindakan yang berulang-ulang yang memberikan struktur dan makna ke kehidupan. Memohon impian adalah ritual yang kita bagikan bersama dengan orang lain. Ketika kita menunjukkan lilin di acara ulang tahun di lingkungan keluarga atau memohon impian di malam tahun baru, kita berpartisipasi dalam tindakan kolektif yang menguatkan hubungan sosial dan memberikan kesadaran kekeluargaan.
Akhirnya, ini adalah permainan. Memohon impian adalah permainan dengan nasib, dunia, dan diri sendiri. Kita tahu bahwa tak ada yang menjamin ekspesi, tetapi kita tetap bermain, karena ada elemen magic yang membuat kehidupan kita kurang monoton dan dapat diperkirakan.
Jika bisa dilakukan survey statistik atas semua impian yang diinginkan manusia, hasilnya akan diharapkan, namun tak kurang sentosa. Impian yang paling sering adalah kasih sayang, kesehatan, dan kebahagiaan untuk orang yang dekat. Kita ingin kerabat kita sehat, untuk menemukan “istrinya” atau “suami nya”, untuk kehidupan keluarga yang damai dan harmonis.
Pada tempat kedua adalah keinginan material. Uang, rumah, mobil, perjalanan, pertumbuhan karir. Ini juga bagian dari alam sejuk kita: kita ingin stabilitas, keamanan, dan kesempatan untuk membiayai hal yang membuat kehidupan lebih kenyang dan menarik. Namun, seperti yang ditunjukkan penelitian, keinginan material sering kali menyerah terhadap yang tak berwujud saat orang mulai menghargai waktu, hubungan, dan kesehatan internal lebih dari hal.
Pada tempat ketiga adalah keinginan yang berhubungan dengan pengembangan pribadi. Kita ingin menjadi cerdas, kuat, dan percaya diri. Kita ingin menghilangkan takut, belajar sesuatu yang baru, mengatasi batasan. Ini adalah keinginan yang menunjukkan kebutuhan dalam kita untuk pertumbuhan dan realisasi diri.
Menariknya, tanpa mengira konteks budaya, keinginan yang paling sering tetap sama. Manusia ingin yang sama, tanpa mengira tempat tinggalnya dan kepercayaannya.
Hari Memohon Impian bukan hanya tanggal yang acak. Ini adalah ingatan simbolik tentang hak kita untuk berpikir. Dalam dunia yang sering kali sibuk, dimana kita jarang berhenti untuk berpikir tentang apa yang kita sebenarnya ingin, hari ini menjadi jeda. Dia mendorong kita untuk mengingatkan bahwa kehidupan bukan hanya tanggung jawab, tetapi juga impian.
Sejarah perayaan ini tak memiliki dasar yang jelas, tetapi kemunculannya menunjukkan kebutuhan dalam manusia untuk mendefinisikan impian mereka. Dalam gangguan harian, kami sering menunda impian “ke kemudian hari”, karena dianggap seperti sesuatu yang kurang serius atau tak dapat dicapai. Hari Memohon Impian memberikan keizinan untuk berpikir tanpa rasa masalah. Ini adalah hari ketika kita dapat membiarkan diri untuk menjadi anak, yang kental, dan percaya bahwa impian kita dapat kapanpun tercapai.
Selain itu, hari ini juga memenuhi fungsi terapeutik. Ketika kita memohon impian, kita bukan hanya berpikir, tetapi mengutarakannya, yang berarti mengakui adanya. Penganugasan adalah tahap pertama untuk mengubah impian menjadi tujuan, dan tujuan menjadi kenyataan. Hari Memohon Impian juga ingatan tentang bahwa impian hidup sendiri. Mereka menjadi real hanya saat kita merubah mereka menjadi rancangan tindakan.
Akhirnya, Hari Memohon Impian adalah pesta harapan manusia. Dan selama ia tetap hidup di dalam kita, selama kita percaya dalam kemungkinan keajaiban, kita tetap hidup. Dan mungkin ini adalah yang paling penting untuk diinginkan — untuk tak berhenti berpikir.
New publications: |
Popular with readers: |
News from other countries: |
![]() |
Editorial Contacts |
About · News · For Advertisers |
Digital Library of New Zealand ® All rights reserved.
2025-2026, ELIB.NZ is a part of Libmonster, international library network (open map) Preserving New Zealand's heritage |
US-Great Britain
Sweden
Serbia
Russia
Belarus
Ukraine
Kazakhstan
Moldova
Tajikistan
Estonia
Russia-2
Belarus-2